🎓 Dari Fullstack ke Ruang Kelas — Catatan Perjalanan Mengajar dan Meninggalkan Legacy
Perjalanan ini tidak dimulai dari ruang kelas.
Ia dimulai dari dunia kerja.
Tahun 2022, aku pertama kali bekerja sebagai Fullstack Engineer, di saat yang sama mulai kuliah juga tanpa gap year. Siang–malam dipenuhi kode, deadline, dan tuntutan industri. Saat itu aku belum pernah terpikir akan berdiri di depan kelas dan mengajar.
Namun semua berubah di tahun 2023.
🌱 Semester 3 — Pertama Kali Mengajar, Pertama Kali Merasa “Ini Gue”
Di semester 3, aku mengambil keputusan yang cukup nekat:
menjadi Asisten Praktikum Algoritma & Pemrograman Dasar.
Ini adalah pengalaman mengajar pertamaku.
Ada satu momen yang sampai sekarang masih membekas:
aku mengajar sambil bolos satu mata kuliah selama 1 semester full😂, karena jamnya bentrok. Aku sadar penuh akan risikonya — tapi saat itu aku memilih mengajar.
Dan ekspresi mahasiswa saat tahu hal itu…
mereka terbelalak. Bukan karena kagum, tapi karena heran:
“Kok ada orang yang lebih milih ngajar daripada ikut kelas?”
Di situlah sense of educator itu muncul.
Aku menikmati:
-
ekspresi mereka saat konsep akhirnya “klik”,
-
rasa puas ketika penjelasan sederhana membuat algoritma terasa masuk akal,
-
kebahagiaan melihat mereka paham, bukan sekadar hafal.
Itu perasaan yang… jujur saja, sulit ditandingi.
Yang Aku Lakukan
-
Mengajarkan dasar pemrograman: data type, variable, control structure, data structure.
-
Melatih logika dan problem solving.
-
Memberi penilaian dan evaluasi algoritma dasar.
🧠 Semester 4 — Struktur Data dan Tantangan Menyederhanakan yang Rumit
Masuk semester 4, aku kembali mengajar. Kali ini materinya naik level:
Struktur Data & Algoritma.
Di sini tantangannya bukan lagi apa yang diajarkan, tapi bagaimana menjelaskannya.
Materi seperti:
-
Stack
-
Queue
-
Linked List
itu mudah dihafal, tapi sulit dipahami jika tidak dikaitkan dengan konteks nyata.
Aku mulai bertanya ke diri sendiri:
“Gimana caranya bikin materi ini relevan dengan industri?”
Maka aku mulai:
-
mengaitkan stack dengan call stack di backend,
-
menjelaskan queue lewat sistem antrian nyata,
-
mengajar lewat live coding, analogi, dan bahkan game kecil.
Harapanku sederhana:
kalau mereka lupa teorinya nanti, logikanya masih tertinggal.
🗄️ Semester 5 — Database, SQL, dan Ilmu yang Terlalu Berharga untuk Dilewatkan
Semester 5, aku mengajar Basis Data.
Alasanku jelas dan sangat personal:
selama bekerja sebagai Software Engineer, aku sadar SQL itu emas — tapi sering diremehkan di kampus.
Ada banyak hal yang jarang disentuh serius:
-
CASCADE -
VIEW -
TRANSACTION -
GROUP BY&HAVING
Padahal di industri, hal-hal inilah yang sering muncul.
Aku tidak ingin mereka hanya tahu:
“SELECT * FROM table”
Aku ingin mereka mengerti kenapa query bisa berbahaya, mahal, atau powerful.
Di kelas ini aku banyak melakukan:
-
mentoring satu per satu,
-
membedah error query bersama,
-
dan menjelaskan database sebagai fondasi data science & system design.
🌉 Semester 6 — Mengajar 50 Orang, Struktur Data, dan Analoginya Kehidupan
Semester 6, aku kembali ke Struktur Data, tapi dengan angkatan baru (angkatan 24).
Bedanya?
-
Aku jauh lebih percaya diri.
-
Aku lebih berani menggunakan analogi kehidupan sehari-hari.
-
Aku bahkan membuat konten pertama kali untuk Tiktok sampai tembus 80.000 views.
-
Aku mengajar 50 orang dalam satu kelas.
Ini bukan presentasi.
Ini mengajar.
Materi seperti Graph aku jelaskan lewat:
-
algoritma media sosial,
-
relasi antar user,
-
bagaimana “kita direkomendasikan teman”.
Rasanya berbeda. Lebih besar. Lebih berat. Tapi juga lebih bermakna.
🚀 Semester 7 — GitHub Classroom dan Legacy yang Ingin Kutinggalkan

Di semester 7, aku mengajar dua kelas sekaligus:
-
Web Based Programming
-
Object Oriented Programming
Di sinilah aku mengambil keputusan penting:
menggunakan GitHub Classroom.
Ini bukan sekadar alat.
Ini adalah legacy.
Tantangannya besar:
-
mahasiswa semester 3 & 5 belum pernah diajar Git/GitHub,
-
materinya penting tapi sering dilewati,
-
awalnya terasa berat.
Namun perlahan:
-
mereka terbiasa dengan repo,
-
mulai paham version control,
-
belajar kolaborasi,
-
dan mengenal standar industri sejak dini.
Aku sadar, mungkin mereka lupa namaku nanti.
Tapi kalau suatu hari mereka berkata:
“Untung dulu diajarin GitHub…”
Itu sudah cukup.
Aku berharap ini menjadi:
-
bekal jangka panjang,
-
ilmu yang terus mengalir,
-
dan semoga… amal jariyah yang tidak terputus.
🧾 Penutup — Mengajar Bukan Tentang Aku, Tapi Tentang Dampak
Dari semester ke semester, satu hal makin jelas bagiku:
Mengajar bukan soal pintar.
Tapi soal peduli.
Peduli apakah mereka paham.
Peduli apakah ilmu ini relevan.
Peduli apakah yang kita ajarkan akan berguna setelah lulus.
Aku bukan dosen tetap.
Aku bukan siapa-siapa.
Aku hanya seseorang yang pernah bekerja di industri,
lalu sambil kuliah juga,
dan ingin meninggalkan sesuatu yang berarti.
Kalau suatu hari nanti legacy ini masih dipakai,
maka semua lelah itu…
pantas.